Aku
Tidak Tahu ...
Pertemuan
Wah… wah…
Chibi melihat ke sekelilingnya. Tidak ada apa-apa, hanya jalan setapak yang menuju sekolahnya. Kenapa Ayah memilih sekolah ini?. Dia juga harus berjalan bermil-mil dari rumahnya ke sekolah. Kenapa Ia berjalan? Karena tidak ada transportasi umum menuju sekolahnya. Sekolahnya itu sangat terpencil di pedalaman hutan. Apalagi sekarang jam sudah menunjukkan pukul 08.30, berarti sudah melewati jam pelajaran pertama dan Ia belum juga sampai di sekolah. Chibi merungut-rungut di sepanjang jalan dan bertanya-tanya kapan Ia akan sampai di sekolah. Chibi teringat kembali kata-kata Ayahnya ketika memberitahunya Ia diterima di SMU Taba. “Chibbu sayang, kau diterima di SMU Taba. SMU ini sangat terkenal dan menjadi SMU favorite. Mulai minggu depan kau akan mulai belajar”. SMU apa yang terkenal rapi di dalam hutan? Pikirnya. Huh. Kenapa Ia harus menuruti kata Ayahnya untuk datang ke sekolah ini?, aaaahh…, dia merasa tertipu oleh Ayahnya.
__
Setelah melewati ujung jalan setapak dan melewati kebun sayuran, akhirnya Chibi sampai di halaman SMU Taba. Halamannya sangat luas. Ia melihat banyak murid yang berkeliaran di halaman sekolah. Aneh, padahalkan ini jam pelajaran kedua. Chibi terus melangkah, Ia terus memperhatikan murid-murid yang berkeliaran di halaman sekolah. Ukh. Apa-apaan ini?. Ia harus mencari guru atau siapapun untuk meminta penjelasan.
“Haii..”
Chibi tidak memperdulikan suara sapaan itu, karena Ia pikir sapaan itu bukan untuknya. Jadi Ia terus berjalan mencari seorang guru. Namun tiba-tiba Ia merasa lengannya ditarik seseorang. Chibi menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya.
“Haii”. seorang siswi tersenyum di depan Chibi. Eehh !!. Chibi pun membalas senyuman itu.
“Aku Sa’i. kau murid baru ya?” Sa’i menggenggam jari jemari Chibi dengan lembut.
“A.. aku Chibbui, kau bisa memanggil ku Chibi. Aku murid baru” jelasnya.
Sa’i melepaskan tangan Chibi. “Hmm.. begitu ya. Kau ini cepat sekali datangnya, sekolah mulai jam setengah sepuluh”.
APPPPAAA???!!!!!. Chibi terkejut. “Jam setengah sepuluh?!!” nada suaranya sama dengan ekspresi wajahnya. Tapi, Ayahnya bilang dia harus cepat-cepat pergi karena sekolah akan mulai lebih awal dari biasanya. Jangan-jangan Ayah menipuku lagi. Ayaaaahhhhhh!!!. Chibi berteriak dalam hati. Nafasnya terengah-engah karena kesal, 2 kali Ia tertipu oleh Ayahnya, kenapa Ia bisa sampai tertipu dan percaya begitu saja pada Ayahnya?.
“Iya. Oya, kau kelas berapa?” Tanya Sa’i.
Mendengar pertanyaan Sa’i, Ia jadi ingat kalau Ia belum melihat surat pembagian kelas yang diberikan Ayahnya. Chibi membuka tasnya, Ia mencari surat itu, merogoh-rogoh isi tasnya dan menemukan surat itu terselip diantara buku tulis dan botol air minumnya. Ia melembari surat itu dan membaca isinya. “kelas 1-B” ucapnya ketika melihat namanya berada dalam kolom kelas 1-B.
“Wah… berarti kita sekelas!! Aku senang, aku sudah mendapat teman. Lalu kau duduk di bangku nomor berapa?” Tanya Sa’i lagi.
Chibi kembali melihat isi surat pembagian kelas. “Nomor 8” ucapnya.
Sa’i menepuk tangannya, “Kita benar-benar jodoh. Aku duduk di bangku nomor 7” wajah Sa’i ceria sekali.
Hehe. Chibi hanya nyengir mendengar ucapan Sa’i yang terlihat sangat gembira.
__
Ding Dong
Bel berbunyi. Para murid segera memasuki ruang kelasnya. Chibi dan Sa’i juga masuk ke dalam ruang kelas 1-B. mereka sama-sama melihat surat pembagian kelas milik mereka masing-masing lalu mencocokkan nomor bangku yang ada di surat dengan bangku yang ada di kelas. Saat Chibi sudah menemukan bangkunya, Ia melihat seseorang dudah menduduki bangku di sebelah bangkunya. Ekh. Wajah Chibi muram. ‘Kan seharusnya Sa’i yang duduk di sampingnya. Chibi berjalan menuju bangkunya, lalu meletakkan tasnya di atas meja. Sementara Sa’i sendiri walaupun agak kecewa juga mengikuti Chibi dan meletakkan tasnya di atas meja. Bangkunya berada di depan bangku Chibi.
“Hei.. bukankah ini bangku untuk nomor 7 dan 8?” Tanya Chibi pada orang yang duduk di sebelah bangkunya dengan nada ketus.
“Tidak. Ini bangku untuk nomor 8 dan 9” jawabnya sambil tersenyum
Huh. Chibi sedang tidak ingin berdebat, jadi Ia duduk di bangkunya dengan ekspresi wajah kesalnya. “Chibi.. nggak apa-apa. Yang penting kita masih berdekatan” ucap Sa’i menghibur Chibi.
Tak berapa lama kemudian seorang guru masuk ke dalam kelas. Ia meletakkan buku pelajaran yang dibawanya ke atas meja. “Perkenalkan. Namaku Raema. Aku adalah wali kelas kalian. Untuk jam pelaran pertama kita pakai untuk perkenalan. Satu persatu kalian maju ke depan perkenalkan nama kalian dan sebutkan sekolah kalian dulu. Baiklah bangku nomor 1 maju”
Siswi yang duduk di bangku duduk nomor 1 maju ke depan kelas. “Namaku Karin Sera. Aku dari SMP Tasuki” katanya lalu duduk kembali di bangkunya. Lalu yang duduk di bangku nomor 2, 3, 4 dan seterusnya maju memperkenalkan diri mereka. Chibi memperhatikan semuanya. “Bangku nomor 7” panggil Pak Raema
Sa’i maju ke depan. Ia tersenyum, “Namaku Sa’i Rajum. Aku dari SMP Keban” lalu Sa’i kembali duduk di bangkunya.
“Bangku nomor 8” panggil Pak Raema lagi.
Chibi berdiri dan beranjak dari bangkunya dan maju ke depan. “Namaku Chibbui Kausa. Kalian bisa memanggilku Chibi. Aku dari SMP Perum Sewana” ucapnya lalu kembali duduk.
“Bangku nomor 9”
Orang yang duduk di sebelah Chibi berdiri dan maju ke depan. “Namaku Ojima Sai. Kalian panggil saja aku Oji. Aku dari SMP Baka” ucapnya dengan wajah berseri-seri lalu duduk.
Pak Raema mulai memanggil lagi murid yang duduk di bangku berikutnya.
__
“Teman-teman sekelsas sangat menyenangkan ya Chibi” Sa’i terus tersenyum sejak keluar dari kelas.
“Ya.. lumayanlah” Chibi menyetujui pernyataan Sa’i.
“Aku lapar. Kau ingin makan apa Chibi?” Tanya Sa’i sambil mengelus-elus perurnya
“Aku ingin beli roti saja”
“Baiklah” Sa’i memutar bola matanya.
Chibi dan Sa’i berjalan menyusuri kantin menuju ke sebuah warung yang dijaga oleh seorang wanita separuh baya. Saat mereka sedang berjalan, mereka mendengar suara gelak tawa. Chibi dan Sa’i melihat sumber tawa itu.
Hahaha…. Hahahaha..!!
“Kau ceroboh sekali” Ucap seorang siswa ketika melihat temannya terjatuh dan wajahnya menimpa semangkuk mie rebus.
“Hahaha… kau mau makan mie dengan hidungmu ya?!” ledek siswa yang satunya lagi sambil menepuk punggung temannya yang jatuh itu.
Bodoh. Bathin Chibi. “Ayo” katanya pada Sa’i yang ikut tertawa melihat peristiwa itu. mereka mulai berjalan lagi.
“Heeii…. Chibbu-kun!!”
Chibi dan Sa’i berhenti malangkah setelah mendengar teriakan itu. mereka membalikkan badannya untuk melihat siapa yang berteriak memanggil Chibi dengan embel-embel ‘kun’. Chibi menekuk wajahnya karena kesal. Untung saja orang yang berada di kantin tidak memperdulikan teriakan itu. Ojima. Ia berdiri dengan senyum lebar di wajahnya. “Heh… apa maksudmu memanggilku seperti itu?!!” Chibi berjalan menggampiri Oji, dia geram.
“Hehehe…” Oji masih senyum-senyum. “Supaya terdengar lebih akrab” Ia memamerkan wajah polosnya.
???!!
Chibi diam. “Tapi aku tidak suka dipanggil seperti itu!!” teriaknya. Semua orang yang berada di dalam kantin terkejut mendengar teriakan Chibi dan memandangnya aneh. Lalu mereka sibuk kembali dengan kegiatan mereka sebelumnya. Sa’i menghampiri Chibi yang bersungut-sungut.
“Sudahlah..”
“Lho..!! kenapa? Bukankah itu bagus?!” Oji memandang Chibi dengan ekspresi wajah menunjukkan bingung ditambah meminta jawaban ‘ya’nya.
“Bagus darimana?! Jelek tahu!!” Chibi mengepak-ngepakkan tangannya tanda Ia kesal.
“Lalu aku memanggilmu apa?” Tanya Oji polos. Raut wajahnya menunjukkan ia sedang berpikir. “Chibbu-san, Chibbu-chan, atau Chibbu-sai” Oji menghitung nama panggilan Chibi dengan jarinya.
Glek!! “Sudah ku bilang aku... TIDAK SUKA” teriak Chibi sekencang-kencangnya lagi. Semua yang berada di kantin melihat Chibi yang ngos-ngosan sehabis berteriak. Sementara Oji menutup sebelah telinganya (kiri) yang paling telak mendengar teriakan Chibi, sepertinya gendang telinganya pecah.
“Hei… Chibi sudah.. Oji…” Sa’i memegangi pundak Chibi dan melihat Oji dengan tatapan menyuruh Oji pergi. Oji mengerti dan segera pergi. Sa’i mengajak Chibi duduk di sebuah kursi yang kosong dalam kantin. “Kau ini..” Sa’i duduk di depan Chibi.
“Aku tidak suka nama ku dipanggil dengan embel-embel seperti itu”
“Iya.., tapi kau harus ingat ini di kantin. Jangan berteriak-teriak seperti itu. bicara dengan baik, jangan emosi” Sa’i mengingatkan Chibi.
“Maaf”
“Tidak apa-apa. Ayo beli makanan, aku lapar” ajak Sa’i.
__
Pelajaran terakhir berakhir. Para murid buru-buru keluar dari kelas mereka masing- masing. Mereka berlari menuju gerbang sekolah, tak sabar ingin melakukan kegiatan selanjutnya dan menghabiskan hari mereka. Chibi dan Sa’i baru saja keluar dari kelas.
“Hei.. aku duluan ya..” pamit Oji pada Chibi dan Sa’i sambil melambaikan tangannya.
“Ya…” balas Sa’i juga melambaikan tangannya. Sementara Chibi menekuk wajahnya. Ia masih kesal dengan Oji, walaupun Oji sudah meminta maaf berkali-kali padanya saat di kelas. “Chibi, kau mau pulang bersamaku? Aku naik sepeda” Sa’i tersenyum.
“Boleh. Tapi apa nanti kau nggak repot?” Chibi memastikan.
“Nggak kok. Hm.. rumahmu dimana?”
Chibi melangkah ke samping kanan Sa’i.
BBUUKK!! Terdengar suara sesuatu terjatuh. Chibi, Sa’i dan murid-murid yang masih berjalan di lorong mengalihkan pandangan mereka ke lantai lorong. Seseorang jatuh tertelungkup di tengah lorong. “iihhh” desis semua yang berada di sekitar murid yang terjatuh itu karena melihat posisi jatuhnya. “Hei.. kau tidak apa-apa?” Tanya seorang siswi.
Murid yang terjatuh itu berusaha berdiri. Setelah berhasil berdiri, murid itu memegangi keningnya yang terasa sakit. Para murid yang berada di sekitarnya melihatnya ngeri karena wajahnya yang terluka terbentur lantai. “Hei… hidungmu..” ucap seorang siswi sambil menunjuk hidungnya. Ia meraba hidungnya, ia merasakan sesuatu yang cair dan hangat di bawah hidungnya. Dilihatnya jari tangannya berwrna merah. Hidungnya berdarah. “AAAHHH HIDUNGKU BERDARAHH !!” teriaknya tanpa bergerak. Lalu Ia berlari secepat mungkin meninggalkan siswa-siswi yang memperhatikannya.
“Dia bodoh?!” Tanya Chibi pada Sa’i sambil menujuk arah murid yang terjatuh itu berlari. Sa’i hanya mengankat bahu. Sementara murid-murid yang lain menghela napas setelah murid yang jatuh itu pergi.
“Ayo. Ku antar kau pulang” Sa’i menarik lengan Chibi.
Chibi dan Sa’i berjalan menuju halaman samping sekolah, dimana tempat para murid memarkirkan sepeda mereka. Setelah sampai, Sa’i langsung mengeluarkan sepedanya dari tempat parkir lalu menaiki sepedanya. “Ayo naik” suruhnya pada Chibi. Chibi duduk di boncengan sepeda Sa’i lalu melingkarkan tangannya memeluk pinggang Sa’i. “Siap?” Tanya Sa’i memastikan.
“Ya” jawab Chibi singkat
“Baiklah..” Sa’i mulai mengayuh sepedanya. Mereka melewati halaman sekolah, Chibi melihat banyak murid yang masih bermain-main dan bercanda dengan temannya. Mereka melewati gerbang sekolah dan mulai memasuki kebun sayuran. “Sa’i..” panggilnya.
“Ya” jawab Sa’i
“Kau tahu?, kenapa sekolah ini berada di tengah hutan seperti ini?” Tanya Chibi, Ia sudah bertanya-tanya dalam hati ketika pergi ke sekolah pagi tadi.
“Kalau aku nggak salah.. sekolah kita ini dulunya bekas istana, istana persembunyian seorang putri raja saat terjadi perang. Makanya di dalam hutan” jelas Sa’i . Sebenarnya Ia sendiri tidak yakin benar akan cerita itu.
“Lalu kenapa dijadikan sekolah?” Tanya Chibi lagi. Ia penasaran.
“Aku tidak tahu.”
Perjalanan melewati jalan setapak menuju jalan raya di lalui dengan keheningan. Chibi tidak tahu apa lagi yang harus dibicarakannya pada Sa’i. Sa’i juga begitu. Sa’i berhenti mengayuh saat mereka tiba di ujung jalan setapak. “Kita ke-arah mana?” Tanya Sa’i membuka suara.
Chibi memperhatikan jalan besar yang ada di depannya. “Arah kanan” beritahunya.
Sa’i kembali mengayuh memasuki jalan besar dan berbelok ke-arah yang di beritahu Chibi. Selama perjalanan kembali terjadi keheningan, mereka tak biacara satu sama lain. Hanya suara kendaraan yang lewat yang terdengar. Sa’i hanya bicara ketika menanyakan arah yang harus di tujunya untuk sampai di rumah Chibi.
Dan akhirnya, mereka sampai di depan rumah Chibi. Chibi turun dari sepeda Sa’i. “Apakah kau mau mampir ke rumahku?” Tanya Chibi
Sa’i tersenyum. “Maaf, lain kali saja. Karna aku harus pulang, aku harus membantu Paman dan Bibi ku”
“Kau tidak tinggal dengan orang tuamu?” Tanya Chibi, ia heran kenapa Sa’i tinggal dengan Paman dan Bibinya bukan orang tuanya.
“Orang tuaku tinggal di luar kota. Di sini aku tinggal dengan Paman dan Bibiku” jawab Sa’i. “Ya sudah. Aku pulang dulu. Daaa Chibi” Sa’i menaiki sepedanya dan mulai mengayuh.
Setelah Sa’i pergi, Chibi masuk ke dalam rumahnya. Di bukanya pintu, “Aku Pulang!” katanya sambil melepaskan sepatunya. Dari dalam rumah terdengar suara kaki yang sedang berlari.
“Chibbu Sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannggg!!!” teriak Ayah dari lorong rumah sambil berlari.
“Buchi… buchi….” (panggilan Teru untuk Chibi) Teru juga berlari di samping Ayah. Mereka sama-sama berlari menuju Chibi sambil merentangkan tangan mereka.
BBBUUKK!! Ayah dan Teru terjatuh ketika mereka hampir tiba di depan Chibi. “Adduuhhh…” ringis Ayah. Sementara Teru memegangi kepalanya yang sakit akibat tersenggol lengan Ayah.
Chibi memalingkan wajahnya. Huh. “Dasar Bodoh” katanya lalu melangkah pergi dari tempatnya berdiri meninggalkan Ayah dan adiknya yang masih duduk di lantai.
“Hei.. Chibbu. Kau ini tidak sopan” Ayah membantu Teru berdiri.
“Aku tidak butuh sambutan seperti itu” Chibi tetap melangkah lalu menaiki tangga menuju kamarnya.
“Haaaahhhhhh… anak itu.” keluh Ayah.
“Ayah makan” Teru menarik lengan baju Ayah.
“Baiklah. Chibbu ayo makan malam” Ayah menggendong Teru masuk ke dapur tempat meja makan. Lalu meletakkan Teru di atas sebuah kursi. Chibbi masuk ke dalam dapur dan duduk di samping Teru.
“Bagaimana dengan sekolahmu Chibi?” Tanya Ayah sambil menyendokkan nasi ke piring.
Chibi memandang Ayah, Ia melihat Ayahnya dengan tatapan menyeramkannya. Bagaimana dengan sekolahku??!! Seharusnya kau sudah tahu..!!. bathin Chibi. “Tidak usah basa-basi” ucapnya ketus.
Ayah merasa tersindir dengan ucapan Chibi. Ya, dia tahu, Chibi akan marah padanya soal sekolah barunya. Tapi, sebenarnya Ia ingin Chibi mendapat pendidikan yang baik, meski jarak antara rumahnya dengan sekolah itu jauh sekali. “Maaf” ucap Ayah agak memelas.
“Hari ini aku tertipu 2 kali” Chibi masih ketus.
“Aku sudah bilang maaf” Ayah tidak menggubris pernyataan Chibi yang ‘tertipu 2 kali’. “Oh ya, karna sekolahmu jauh. Ayah sudah menyiapkan sebuah kamar untukmu” beri tahu Ayah. Seharian ini Ia sudah mempersiapkan kamar itu untuk Chibi. Agar Chibi tidak harus berjalan jauh-jauh lagi.
“Kamar??! Untukku??!” Chibi tidak mengeri.
“Supaya kau tidak harus berjalan jauh lagi. Di sebe;lah kanan sekolahmu ada kamar-kamar yang disewakan. Jadi Ayah menyiapkan satu kamar untukmu. Mulai besok kau sudah tinggal di sana” jelas Ayah Chibi dengan senang. “barang-barangmu akan Ayah antar semuanya besok”
__
Chibi membantu Ayah membawa koper-koper berisi barang-barangnya menaiki tangga. Kamarnya berada di tingkat dua. Sementara Teru asyik bermain HP Ayah di depan kamarnya. Sampai di depan kamar, Ayah membuka kamar itu lalu masuk dengan membawa koper-koper berisi barang-barang Chibi diikuti Chibi dan Teru.
Chibi memperhatikan ruangan itu. Dindingnya berwarna biru muda sesuai dengan warna kesukaannya. Ada meja kecil di tengah ruangan dan TV berukuran 14 inch di sudut ruangan. Ia masuk ke dalam kamar, tempat tidur untuk satu orang berada di sudut ruangan, seprainya berwarna krem sama dengan warna alas kasurnya. Jendela berada di belakang tempat tidur, dengan gorden berenda berwarna putih yang dihiasi dengan motif-motif bunga berwarna merah. Meja belajar berada di sudut ruang satunya, dan di sampingnya ada rak buku kecil. Lemari pakaian ada di sebelah pintu. Hmm.. tidak buruk. Pikir Chibi.
Chibi keluar dari kamar dan melangkah ke bagian belakang untuk melihat dapurnya. Seperti dapur pada umumnya. Ia kembali melangkah untuk melihat kamar mandi yang berada di bagian paling belakang. Kamar mandinya bersih, airnya juga bersih. Sepertinya tempatnya nyaman, pikir Chibi.
“Hei.. Chibbu” panggil Ayah dari ruang tamu.
Chibi segera menemui Ayahnya. “Ya?”
“Hik..” wajahnya terlihat sedih. “Aku pasti akan merindukanmu”.
“Ah, tidak usah berlebihan” ucap Chibi ketus.
“Buchiii…” Teru memeluk Chibi dari belakang.
Kemudian tangis Ayah dan Teru pecah. Mereka menangis tersedu-sedu. Ah, Chibi malas melihatnya. Ayah dan adiknya ini memang kompak, apalagi Teru memang mirip Ayah yang sangat ceroboh, berlebihan dan aneh. Huufft. Begitu-begitu juga tetap Ayahnya. Chibi pun luluh dengan tangis ayam Ayah dan adiknya itu. “Sudah berhenti. Kalian bisa mampir ke sini” ucapnya menghibur.
Ayah memebersihkan air matanya dan tersenyum. “Benarkah?”, kata-kata itu yang ditunggunya.
“Ya!!”
Tangis ayam Ayah dan Teru pun berhenti dan diganti dengan senyum dan tawa srigala tidur. Huh. Chibi sudah menduganya.
“Baiklah.. selamat menikmati kamar barumu. Ayah dan Teru pulang dulu” pamit Ayah.
“Buchi.. daa daa” Teru melambaikan tangannya.
Ayah dan Teru pun pulang. Ha’aah. Chibi menutup pintu kamarnya. Ia harus mulai membereskan barang-barangnya.
###
Ohh.. Tidak!!
Chibi meletakkan tasnya ke atas meja. Ia lelah sekali, karena pagi tadi membereskan barang-barang yang dibawanya dari rumah. Rasanya semua badannya remuk dan Ia sangat tidak bersemangat mengikuti pelajaran hari ini.
Sa’i datang. Seperti biasa senyum manis selalu menghiasi wajahnya. Sa’i memang suka tersenyum. Ia meletakkan tasnya ke atas meja dan melihat Chibi yang tidak bersemangat. Chibi memang suka menekuk wajahnya. “Haii Chibi. Kau kenapa?” Sa’i duduk di kursinya.
“Tidak apa-apa” jawab Chibi malas.
Hmm. Sa’i melihat wajah Chibi memang tidak bersemangat sama sekali. Karena Chibi tidak memberitahunya, jadi sebaiknya Ia tidak mengusik Chibi.
“Haii.. haii…”
Oji masuk ke dalam kelas setelah menyapa teman-teman lainnya yang berada di luar kelar. Ia meletakkan tasnya di atas meja. “Haii..” sapannya pada Sa’i dan pada Chibi.
“Haii Oji” balas Sa’i.
Oji melihat Chibi yang murung. Ah, Ia tidak ingin mengganggu Chibi, Ia tidak mau Chibi sampai marah seperti semalam. “Heii.. aku mendapat tetangga baru!!” beritahu Oji.
“Tetangga baru?” Sa’i tidak mengerti.
“Ya. Dia baru pindah pagi ini. Tapi, aku tidak sempat berkenalan dengannya karena saat aku pergi sekolah, dia juga sudah pergi” wajah Oji sedih sama dengan nada suaranya. “Tapi, nanti saat pulang sekolah aku akan mampir ke kamarnya” Oji menegakkan kepalanya dan mengepalkan tangannya, seperti sedang bertekad.
Sa’i hanya memandang Oji dengan ekspresi wajah senang di buat-buat.bersambung .....
kiriman dari Debby Yusnia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar