Welcome To EnggakJelaz.blogspot.com

Gak Jelaz

Translate

Change Font

Loading

Rabu, 26 Januari 2011

Forum Kiriman

Kasus , (Cinta)


-Prolog-
            Rami sedang duduk di atas sofa ruang tamunya. Ia melembari kertas-kertas yang terselip di antara jari-jemarinya, dan memperhatikan setiap kertas yang berisi tagihan telepon dan kartu kredit.
            Ia pusing. Harus bagaimana Ia membayar semua tagihan itu yang sudah menunggak lima bulan?, sementara gajinya habis untuk membayar sewa kamar, membeli bahan makanan dan biaya transport.
            Tok! Tok!!
            Rami beranjak dari duduknya menuju pintu. Dipegangnya handle pintu lalu diputarnya sedikit. Pintu perlahan terbuka. Rami melihat seseorang yang sangat dikenalnya dan dekat dengannya. Ia membiarkannya masuk, lalu kembali menutup pintu. Ia berjalan menuju sofa dimana tamunya sudah duduk, Ia duduk di hadapan tamunya.
            “Tagihan??” Ia melihat Rami, “Lagi..??!” ucapnya memastikan kertas yang ada di hadapannya adalah surat tagihan.
            “Ya” jawab Rami.
            “Aku akan membayarnya”
            “Benarkah??! Tidak mungkin. Jangan sombong!” Rami melihat orang yang berada di depannya dengan tatapan sinis ditambah dengan tatapan merendahkan.
            “STOP!!. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Kau mau atau tidak?” katanya kesal dan merasa direndahkan oleh Rami.
            “Jadi.., kau mau barter?” Rami masih bersikap sombong dan merendahakan tamunya. Ia dapat merasa sebenarnya kadatangan orang ini ingin memeberinya suatu penawaran, tapi Ia tidak tahu apa yang diinginkannya.
            “Ya!!” jawabnya tegas.
            “Apa yang kau inginkan?” Rami ingin rahu. Ia melipat kedua tangannya di dada lalu bersandar pada sofa.
            “Lexi”
            “Lexi??!” Rami tidak percaya. “Aku tidak tahu apa yang menarik darinya. Kenapa kau begitu menginginkannya?”
            “Itu bukan urusanmu!”
            “Oh. Itu urusanku. Lexi adalah kekasihku”
            “APA?!!” pengakuan Rami membuatnya terkejut dan marah. “Kau sungguh keterlaluan!!” Ia berdiri dan langsung menerjang Rami, memukulnya, menamparnya, dan menjambak rambutnya. “Sudah ku bilang aku tidak ingin berdebat”
            “Kau bodoh, Ma”
            Amarah ‘Ma’ benar-benar memuncak, ia berpaling dari Rami untuk mencari suatu benda. Lalu diambilnya vas bunga yang terbuat dari keramik yang berada di samping sofa. Lalu dengan keras dipukulnya kepala Rami dengan vas itu. Vas itu pecah. Darah mulai bercuruan dari kepala Rami, di tempat yang dipukulnya. “Oh.. Tidak!!. A.. aku membunuhnya” Ia takut dan mulai menjauhi Rami. Lalu dengansegera Ia tinggalkan kamar rami, Ia tidak mau tertangkap karena telah membunuh Rami.
óóó
            Kasus Baru

            Tok!! Took!!
            Sekali lagi Mamii mengetuk pintu. Ia menunggu pintu dibuka. Tapi, setelah menunggu beberapa menit pintu tidak juga dibuka. Mamii merasa curiga. Apa Rami sedang keluar?, tapi biasanya Rami memberinya kabar kalau keluar rumah, atau dia masih tidur? Ya, mungkin dia masih tidur. Pikir Mamii. Mamii mengambil kunci duplikat kamar Rami dari dalam saku celananya lalu memasukkan kuci itu kedalam lubang kunci, dan memutarnya.
            Eh!!. Kuncinya berayun ringan. Pintunya tidak terkunci. “Aneh” ucapnya lalu membuka pintu. Mamii mulai melangkah masuk ke dalam kamar Rami. Ia memperhatikan isi dalam kamar itu, masih tampak seperti biasa. Ia terus melangkahkan kakinya masuk sampai di ruang tamu.
            “AAAARRRKKHHHHHH” Mamii berteriak histeris. Ia segera berlari keluar dari kamar Rami. “Toloooooonggg!!” teriaknya di depan kamar Rami. “Tollooooonnggg!!” Ia berteriak lagi lebih keras. Beberapa orang yang kamarnya berada didekat kamar Rami keluar karena mendengar teriakan Mamii. Mereka melihat Mamii berdiri di depan kamar rami dengan wajah pucat dan ketakutan.
            “Ada apa?” Tanya Nathan yang kamarnya berada di sebelah kiri kamar Rami.
            “Ra.. rami..” ucapan Mamii terbata-bata karena masih syok. Ia menunjuk-nunjuk ke dalam kamar.
            “Kenapa dengan Rami?” Hera yang kamarnya berada di depan kamar Rami khawatir pada Mamii begitu melihat ekspresinya.
            “Ya, apa yang terjadi?” Frank ikut khawatir (pacar Hera), kamarnya berada di samping kamar Nathan.
            Mamii tidak sanggup bicara tentang keadaan Rami yang baru dilihatnya. Tenggorokannya terasa sakit dan mulutnya terasa dikunci rapat. Ia takut dan tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Ia berusaha menenangkan dirinya, tapi wajahnya terlihat sangat tegang. Air mata Mamii mulai mengalir, dan Ia mulai terisak-isak.
            Nathan dan Frank memutuskan masuk ke dalam kamar Rami untuk mengetahui keadaan Rami dan mengapa Mamii berteriak dan terlihat begitu ketakutan. Sementara Hera tetap bersama Mamii untuk menenangkan Mamii.
            Nathan dan Frank terkejut begitu tiba di ruang tamu Rami. Mereka melihat Rami tergeletak di lantai bersimbah darah. Tangan dan kepalanya terluka. Sofa yang berada di dekat Rami terbalik dan pecahan keramik berserakan di sekitar tubuh Rami.
            “PANGGIL POLISSIIII” teriak Nathan.

__

            Hera masih menemani Mamii. Mereka duduk di luar kamar, sementara polisi sedang memeriksa kamar Rami.
            “Hei..”
            Hera dan Mamii mendongak. Mereka melihat salah seorang polisi berdiri disamping mereka. “Ya..” balas Hera.
            “Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan”
            Hera melihat Mamii yang masih sesenggukan. Mamii juga menatapnya. Hera menunjukkan tatapan apa-kau-sudah-siapnya, dan Mamii yang mengerti tatapan itu mengangguk. Lalu mereka berdiri dan melihat Polisi itu.
            “Siapa yang menemukannya pertama kali?”
            “A.. aku” jawab Mamii
            “Jam berapa?”
            “Sekitar jam..” Mamii mencoba mengingat. “Jam delapan sampai setengah sembilan”
            “Baik. Siapa diantara kalian yang kerabatnya?”
            “Aku.. aku kakaknya”
            “Baiklah. Kami akan membawa mayatnya untuk di otopsi”
            “Ba.. baik”
            Polisi itu mengangguk lalu pergi. Mamii kembali terisak lalu memeluk Hera. “Sudah..” Hera membelai kepala Mamii untuk menenangkan Mamii.

__

            “Kau tidak akan bisa mengalahkanku..” Huan menjepit kepala Noah dengan tangan kirinya. Ia merasa menang. Noah tidak bisa berbuat apa-apa.
            “Heii.. lepaskan aku!” Rengek Noah. Ia tidak tahan diperlakukan seperti anak kecil oleh Huan.
            “Tidak a-kan..” Huan mengacak-acak rambut Noah.
            Hhh..!! Noah berusaha melepaskan kepalanya dari jepitan tangan Huan. Huan menahan tangannya agar tidak terlepas. Noah merasa kesakitan karena Huan menekan tangannya, Ia mencoba mendorong tangan Huan. Tidak berhasil. Huan malah menertawakan tindakan Noah.
            Tererererettt!! Tererererrreeerrrerererettt!!!!
            Vibrating alert berikut ring tone handphone (selanjutnya hp) Noah berkoar-koar, hp Noah menjerit-jerit minta diangkat. “Lepaskan aku..” Pinta Noah agak memelas.
            “Baik” Huan mengangkat tangannya sehingga Noah bebas.
            Noah segera menyambar hpnya yang terus menjerit. Tanpa melihat layar Lcd hpnya untuk mengetahui siapa yang memanggilnya, Noah langsung memencet tombol ‘Yes’ (kebiasaan). “Hallo..” Ucapnya begitu panggilannya tersambung.
            “Noah Jhonson”
            Terdengar suara seorang pria dari seberang telepon. Suaranya berat, nada yang datar dan terdengar bijaksana. Astaga?!. Noah mengenali pemilik dari suara tersebut. Cross Reiner, atasannya. “Ya!” Ucapnya. Tenggorokannya agak tercekat.
            “Sektor 45, jalan 9th Street nomor 38.” Ucapnya memberitahu.
            “Baik, Pak” Noah membuat suaranya terdengar tegas.
            “Bagus. Aku sudah mengirim data-datanya” Katanya lagi.
            “Ya. Terima kasih”
            Tuuuttt!! Telepon ditutup.
            “Ada apa?” Huan sedikit penasaran setelah mendengar percakapan singkat Noah dengan orang yang meneleponnya.
            Noah menatap Huan. Ia mengerling lalu mengancungkan jempolnya dan tersenyum lebar. Huan sangat mengerti pose yang ditunjukkan Noah, Ia pun tersenyum senang menanggapi reaksi Noah.
            Noah mengambil laptopnya yang berada di dalam tasnya yang terletak di samping sofa, menaruhnya di atas meja lalu menghidupkannya.
            “Kali ini apa?” Huan tidak sabar.
            Noah mulai mengecek e-mailnya. Ia menemukan satu pesan dari Bosnya, dan mulai membaca isi pesan itu. “Rami Elenora Rof. ditemukan dengan keadaan luka sayatan di pergelangan tangan kiri dan luka  di kepala akibat pukulan benda tumpul. Ditemukan kira-kira sekitar pukul 08.00-08.30 pagi, yang menemukannya adalah Kakaknya. Di TKP ditemukan tagihan telepon dan kartu kredit”.
            Noah bersandar pada sofa sambil melipat kedua tangannya di dada. Ia mulai berpikir motif dari pembunuhan itu. Tagihan telepon dan kartu kredit?, apa mungkin agen dari perusahaan itu? Tidak. Mereka pasti akan memutuskan sambungan telepon dan kemungkinan besar menjebloskannya ke penjara. Atau, seorang teman pernah meminjam kartu kreditnya, setelah menunggak Ia minta bayaran. Tapi, temannya tidak mau memberi. Ia kesal dan mereka bertengkar. Lalu temannya itu membunuhnya. Ya, itu bisa jadi. Tapi, ada sayatan di pergelangan tangan kirinya. Itu bisa juga bunuh diri. Pikir Noah.
            Noah mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan lain. Sementara Huan, Ia mencermati pesan yang diterima Noah.
            “Hei..” Seru Huan setelah membaca dan mencermati pesan itu beberapa kali. “Rami Elenora Rof.” Serunya lagi sambil melihat Noah. Matanya berbinar-binar.
            “Apa?” Noah merasa aneh dengan reaksi Huan.
            Huan mengepalkan tangannya lalu mengangakan mulutnya di depan kepalan tangannya. “Na.. nanananaaananaaaa…” Nada suaranya, berirama sangat tidak jelas. Noah tidak mengerti pertunjukan apa yang Huan tunjukkan padanya. Ia mengangkat sebelah alisnya tanda tidak mengerti.
            Melihat ekspresi wajah Noah, Huan menghentikan aksinya. Hhhh…. Ia menghela napas. “Klub Gadget” katanya. Nalar apanya?!, itu saja tidak mengerti. Huan menggerutu dalam hati.
            “Klub apa?” Noah tidak mengerti.
            HUan mengehela napas lagi. “Klub Gadget!! Waktu itu kita merayakan keberhasilanku menangkap 2 perampok Bank Central.” HUan tidak sabar. Rasanya Ia ingin memukul sesuatu.
            “Oohh.. ya. Aku ingat!” Noah melihat Huan tersenyum. “Tapi, apa hubungannya dengan kasus pembunuhan in?” Tanya Noah polos.
            Heeeuuhh…!!!. Huan benar-benar akan mencekik Noah. “Kau ini!!!. Makanya perhatikan. Sewaktu di klub, ada penyanyi yang bernama Rami Elenora Rof., waktu aku melihat foto korban pembunuhan ini, aku ingat. Ini Rami Elenora Rof. yang sama!” Huan menggebu-gebu. Dari tadi Ia memberi tahu, tapi Noah tidak jeli.
            Satu petunjuk. Noah mulai berpikir lagi. Atau pembunuhan ini ada hubungannya dengan pekerjaannya?.
            “Hei.. lebih baik langsung ke TKP dan introgasi orang-orang terdekatnya.” Saran Huan.
            Noah menatap Huan. “Aku tidak bisa. Aku ada janji” Noah menunjuk jam tangannya.
            “Janji??” Huan mengerutkan keningnya. Janji dengan siapa?. Setahu dirinya, Noah tidak ada jadwal pertemuan dengan siapapun.
            “Ya. Mitchell Laura” Noah mengedipkan matanya.
            Huan terkejut. “Apa??!!. Kau benar-benar berkencan dengannya?!”
            “Ya” Noah bangkit dari duduknya.
            “Kau menggali liang kuburmu sendiri.” Huan mencoba menyadarkan Noah. Mitchell Laura adalah seorang Hakim Agung dan umurnya jauh lebih tua sepuluh tahun dari Noah. Ya, Mitchell memang cantik. Tapi, Noah kan bisa mencari yang sebaya dengannya. “Jadi kau akan pergi?”.
            “Tentu saja” jawab Noah dengan senang.
óóó
            Noah sampai di depan sebuah restaurant. Tempatnya janji bertemu dengan Mitchell. Ia masuk ke dalam restaurant itu. Ia mulai mencari meja yang kosong. Saat menyusuri ruang itu, matanya menemukan sosok Mitchell sedang duduk di meja dekat jendela. Segera saja Noah menghampirinya.
            “Lama menunggu?” tanyanya ketika sudah berada di samping Mitchell.
            Mitchell memandang Noah lalu tersenyum. “Tidak. Ayo, duduk” Ia mempersilahkan Noah duduk di hadapannya. Noah pun duduk.
            “Apa kau sudah memesan makanan?” Tanya Noah.
            “Belum..”
            “Baiklah”
            Noah memanggil seorang waiters dan memesan makanan untuknya dan Mitchell. Setelah waiters itu pergi, keheningan terjadi diantara mereka. Noah tidak berani dan tidak tahu harus bicara apa. Sementara Mitchell sibuk mengutak-atik hpnya. Tak berapa lama kemudian, waiters yang berbeda membawa makanan pesanan mereka dan meletakkannya di atas meja. Pelayan itu pergi. Noah mulai memegang sendok, begitu juga dengan Mitchell. Noah memperhatikan Mitchell yang sedang makan. Oh Tuhan. Betapa anggunnya dia. Kagumnya.

__

            “Terima kasih atas makan malamnya” Ucap Mitchell ketika mereka telah selesai makan.
            “Tidak. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, karena mau menerima ajakanku dan menemaniku.” Noah malu-malu. “Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang” Ajak Noah.
            Mitchell tersenyum sebagai balasan ajakan Noah. Mereka mulai menyusuri jalanan menuju rumah Mitchell. Sepanjang perjalanan keheningan kembali terjadi. Noah benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ia merasa tidak bisa menjadi sebagaimana dirinya, kekakuan menyelimuti dirinya. Sendi-sendinya terasa bergeser dari tempatnya, tulang kakinya seperti tidak sanggup menahan tubuhnya dan udara malam ini benar-benar dingin dirasanya. Berada di samping Mitchell merubah suhu tubuhnya, padahal inilah yang diimpikannya selama ini.
            Noah mencoba menenangkan dirinya dan bersikap biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar